Percaya Takdir Tuhan atau Vonis Dokter?

Sekitar enam tahun lalu, ayah saya meninggal dunia. Secara medis dikarenakan beliau sudah lama mengidap penyakit kanker hati akut, namun kurang mendapat penanganan sebagaimana mestinya. Vonis penyakit itu baru diketahui sekitar dua minggu sebelum kepergiannya, setelah memeriksakan diri ke rumah sakit. Tim dokter dari pihak rumah sakit pun kebingungan, jalan satu-satunya untuk mengobati penyakit jenis tersebut adalah dengan operasi tapi kondisi fisik beliau tidak memungkinkan, mengingat sudah lanjut usia (73 tahun). Resikonya terlalu tinggi, peluang keberhasilan tindakan medis hanya beberapa persen saja. Malahan pihak rumah sakit mereferensikan agar dilakukan metode pengobatan alternatif, dan sudah dilakukan dengan beragam upaya tapi belum mendapat hasil signifikan.

Kejadian tersebut mengejutkan berbagai pihak, banyak sekali komentar-komentar yang menyayangkan keterlambatan informasi mengenai penyakit yang dideritanya, hingga beliau menghembuskan nafas terakhir. “Kalau saja sebelumnya, beliau mau dirawat di rumah sakit mungkin usianya akan lebih panjang? Seharusnya mendapat penanganan yang lebih cepat, diketahui segera”.

Tetapi ketika mendapat kenyataan seperti itu, alangkah baiknya saya mengambil sikap untuk tetap tenang, bersabar dan ikhlas atas takdir Tuhan. Sebab sampai beberapa waktu lama setelah kepergian beliau, komentar-komentar penyesalan itu masih saja didengar dari beberapa kerabat. Pasalnya, bukankah komentar bernada penyesalan justru menjadikan beban, sehingga menimbulkan rasa bersalah yang semakin mendalam?

Itu adalah suatu kenangan tidak terlupakan sampai saat ini, banyak sisi positif yang seharusnya dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran berharga. Ditarik penyimpulan, bahwa takdir Tuhan akan menghampiri siapapun, dimanapun berada, dalam kondisi apapun. Setiap makhluk pasti akan mengalaminya.

Selain itu, merupakan bagian dari salah satu media untuk belajar ikhlas. Karena kesedihan dan kegelisahan tidak akan mengembalikan sesuatu yang hilang. Seandainya usia ayah saya lebih panjang dengan kondisi fisik yang kian hari semakin memburuk, bukankah justru akan membebani dirinya dan orang-orang yang merawatnya?

Hal tersebut bukan berarti lebih baik meninggal dunia dari pada mengupayakan kesembuhan, karena cara pandang dalam hal ini tergantung dari situasi dan kondisi yang sedang dialami. Kalau dalam kondisi merawat orang sakit yang tidak kunjung sembuh, tentu kesabaran serta rasa ikhlaslah yang dibutuhkan untuk mendapat nilai di sisi Tuhan. Seandainya melihat dari sudut pandang keagamaan, memungkinkan di balik situasi dan keadaan serba sulit, Tuhan memberikan kebaikan yang sungguh besar.

Betapa Tuhan mengingatkan kita semua melalui orang yang sedang sakit. Bahwa, kesehatan merupakan anugerah besar dan wajib untuk disyukuri, dengan cara menjalani pola hidup sehat serta memenuhi hak-hak setiap organ tubuh.

Tantangan, masalah, situasi dan kondisi yang serba sulit akan selalu ada di muka bumi ini. Oleh karenanya, terpenting adalah bersikap bijak terhadap sesuatu yang sedang dialami, mendapat kesempatan belajar serta tumbuh selama proses situasu berlangsung, menciptakan kekuatan dan bahkan dapat mengatasi kesulitan.

0 comments:

Poskan Komentar